Kamis, 01 Desember 2011

Hubungan kata


Kata mempunyai hubungan dengan dunia nyata dan hubungan antara unsur bahasa. hubungan kata dengan dunia nyata disebut dengan makna atau referen sedangkan hubungan  kata dengan unsur bahasa disebut dengan pengertian atau sense yang lebih dikenal dengan konteks linguistik. Berikut akan dijelaskan mengenai konteks linguistik tersebut.
Perpaduan suatu kata akan menyebabkan muncul (kolokasi) suatu kata lain  yang disebut dengan lingkungan leksikal.
Contoh:
1.      Sebuah apel, sebuah mangga, sebuah jambu
2.      Belum makan, belum tidur, belum mandi
3.      Bukan prajurit, bukan kalian, bukan seperti itu
 Akibat dari kata-kata seperti sebuah, belum, bukan akan membuat munculnya kata lain yang sesuai. Hal inilah yang disebut dengan lingkungan leksikal.
Selain memunculkan suatu kata lain perpaduan kata juga dapat memunculkan pengertian tertentu.
Contoh :
1.      Tas Adi           : memiliki pengertian tas milik Adi
2.      Tas kulit          : memiliki pengertian tas yang terbuat dari kulit
3.      Tas bekas         : memiliki pengertian telah dipakai oleh orang lain
Hubungan kata dapat berupa sinonimi, polisemi, homonimi, hiponimi dan antonimi. Berikut akan dijelaskan secara detail mngenai hubungan kata tersebut.
1.      Sinonimi
Sinonimi adalah nama lain untuk benda atau hal yang sama. Sinonimi yaitu suatu istilah yang mengandung pengertian telaah, keadaan, nama lain.
 Contoh:   pintar, pandai, cerdik, cerdas, cakap,
     mati, meninggal, berpulang, mangkat wafat
Sinonimi tidak mutlak memiliki arti yang sama tetapi mendekati sama atau mirip.
Hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya sinonimi adalah:
1.      Penyerapan kata-kata asing
Contoh : spasi= jarak
2.       Penyerapan kata-kata daerah
Contoh : aku =  ana, beta, gue dsb
3.      makna emotif dan evaluatif.
Contoh : 1.  Cinta = sayang, suka
           
Kata bersinonimi tidak dapat dipertukarkan tempatnya karena dipengaruhi oleh  :
(1)   faktor waktu,
contoh : kata hulubalang bersinonim dengan kata komandan. Namun, keduanya tidak mudah di tukar karena kata hulubalang hanya cocok untuk situasi kuno, klasik, atau arkais. Sedangkan kata komandan hanya cocok untuk situasi masa kini (modern)
(2)   faktor tempat atau daerah,
contoh : kata saya dan beta adalah bersinonim. Tetapi kata beta hanya cocok untuk digunakan dalan konteks pemakaian bahasa Indonesia timur (Maluku) ; sedangkan kata saya dapat digunakan secara umum di mana saja.
(3)   faktor sosial,
contoh : kata aku dan saya adalah dua buah kata yang bersinonim; tetapi kata aku hanya dapat digunakan untuk teman sebaya yang tidak dapat digunakan kepada orang yang lebih tua atau yang status sosialnya lebih tinggi.
(4)   faktor kegiatan
contoh : Misalnya kata tasawuf, kebatinan, dan mistik adalah tiga buah kata yang bersinonim. Namun kata tasawuf hanya lazim dalam agama Islam; kata kebatinan untuk yang bukan islam; dan kata mistik untuk semua agama.
(5)   faktor nuansa makna.
Contoh : Misalnya kata-kata melihat, melirik, melotot, meninjau, dan mengintip adalah kata-kata yang bersinonim. Kata melihat memang bisa digunakan secara umum; tetapi kata melirik hanya digunakan untuk menyatakan melihat dengan sudut mata; kata melotot hanya digunakan untuk melihat dengan mata terbuka lebar: kata meninjau hanya digunakan untuk melihat dari tempat jauh atau tempat tinggi; dan kata mengintip hanya cocok digunakan untuk melihat dari celah yang sempit.

2.      Polisemi dan Homonimi
Polisemi lazim diartikan sebagai satuan bahasa (terutama kata, bisa juga frase) yang memiliki makna lebih dari satu. Umpamanya, kata kepala dalam bahasa Indonesia memiliki enam makna. Namur, makna –makna yang banyak dari sebuah kata yang polisemi itu masih ada sangkutpautnya dengan makna asal, karena dijabarkan dari komponen makna yang ada pada makna asal kata tersebut.
Contoh :
1). Kepala → * bagian tubuh (manusia, binatang) dari leher ke atas * sesuatu yang kedudukannya di atas atau terutama (yang terpenting, yang pokok) * pemimpin.
Contoh dalam penggunaannya:
a). Kepala orang itu terluka akibat lemparan batu.
b). Penulisan dalam kepala surat dinas itu masih kurang tepat.
c). Kepala Program Studi (Kapodri) sedang tidak berada di tempat karena menghadiri rapat pimpinan.
2). Kaki → * anggota tubuh bagian bawah untuk berjalan * bagian sesuatu yang letaknya di sebelah bawah * sesuatu yang fungsinya sebagai penopang untuk berdiri.
Contoh dalam penggunaannya:
a). Kaki model itu jenjang.
b). Persawahan di kaki gunung itu nampak subur.
c). Kaki meja kayu itu sudah patah.
3). Akar → * bagian tumbuhan yang berfungsi menyerap makanan dan penguat batang * sangat mendalam * salah satu hal dalam matematika.
Contoh dalam penggunaannya:
a). Tumbuhan itu berakar serabut..
b). Sifat buruknya sudah sangat mengakar sehingga sulit untuk disadarkan.
c). Akar pangkat tiga dari 8 adalah 2.

Persoalan lain yang berkenaan dengan polisemi ini adalah bagaimana kita bisa membedakannya dengan bentuk-bentuk yang disebut homonimi. Perbedaannya yang jelas adalah bahwa homonimi bukanlah sebuah kata, melainkan dua buah kata aatu lebih yang kebetulan bentuknya sama. Tentu saja karena homonimi ini bukan sebuah kata, maka maknanya pun berbeda.

Homonimi adalah dua buah kata atau satuan ujaran yang bentuknya “kebetulan” sama; maknanya berbeda karena masing-masing merupakan bentuk ujaran yang berlainan. Umpamanya, antara kata  pacar bermakna ‘inai’ dan kata pacar yang bermakna ‘kekasih’,antara kata bisa yang berarti ‘racun ‘ dan kata bisa yang berarti ‘sanggup’.
Pada kasus homonimi ada dua istilah lain yang biasa dibicarakan yaitu homofoni dan homografi. Homofoni adalah adanya kesamaan bunyi antara dua satuan ujaran,tanpa memperhatikan ejaannya,apakah ejaannya sama atau berbeda. Misalnya kata bias yang berarti ‘racun’ dan bias yang berarti ‘sanggup’.
Istilah homografi mengacu pada bentuk ujaran yang sama ortografinya atau ejaannya,tetapi ucapan dan maknanya tidak sama. Misalnya, memerah yang berarti ‘melakukan perah’ dan memerah yang berarti ‘menjadi merah’.
Perbedaan antara homonimi dan polisemi. Bahwa homonimi adalah dua buah bentuk ujaran atau lebih yang ‘kebetulan’ yang bentuknya sama dan maknanya berbeda. Sedangkan polisemi adalah sebuh bentuk ujaran yang memiliki makna lebih dari satu. Makna-makna yang ada dalam polisemi, meskipun berbeda tetapi dapat dilacak secara etimologi dan semantic, baha makna tersebut masih mempunyai hubungan. Contohnya, hubungan antara makna kepala dengan kepala surat dapat ditelusuri berasal dari makna leksikal kata kepala itu. Tetapi kita tidak bias melacak hubungan antara bisa ‘racun’ dengan bisa ‘sanggup’.

Di dalam kamus bentuk-bentuk yang homonimi didaftarkan sebagi entri-entri yang berbeda. Sebaliknya bentuk-bentuk polisemi adalah sebuah kata yang memiliki makna lebih dari satu. Karena polisemi ini adalah sebuah kata maka di dalam kamus didaftarkan sebagai sebuah entri. Satu lagi perbedaan antara homonimi dan polisemi, yaitu makna-makan pada bentuk homonimi tidak ada kaitan atau hubungannya sama sekali antara yang satu dengan yang lainnya.
3.      Hiponimi
Hiponimi ialah semacam relasi antarkata yang berwujud atas bawah, atau dalam suatu makna terkandung sejumlah komponen yang lain.
Hiponimi adalah semacam relasi antarkata yang berwujud atas bawah, atau dalam suatu makna terkandung sejumlah komponen yang lain. Kelas atas mencakup sejumlah komponen yang lebih kecil, sedangkan kelas bawah merupakan komponen yang mencakup dalam kelas atas. Contoh: Januari, Februari, Maret, April hiponimi dari kata bulan. Kelas atas disebut hipernim, contohnya, ikan hipernimnya tongkol, gabus, lele, teri.
4.      Antonimi
Antonim atau antonimi adalah hubungan semantic antara dua buah satuan ujaran yang maknanya menyatakan kebalikan, pertentangan, atau kontras antara yang satu dengan yang lain. Misalnya kata buruk berantonim dengan kata baik. Menjual  berantonim dengan membeli.  Antonimi dapat dibedakan atas beberapa jenis, antara lain;

a.       Oposisi kembar yaitu perlawanan kata yang merupakan pasangan atau kembaran yang mencakup dua anggota.

Contoh: laki-laki >< perempuan

  kaya >< miskin

  ayah >< ibu

b.       Oposisi gradual yaitu penyimpangan dari oposisi kembar antara dua istilah yang berlawanan masih terdapat sejumlah tingkatan antara.

Contoh: kaya dan miskin, besar dan kecil

Pada kata tersebut terdapat tingkatan (gradual) sangat kaya – cukup kaya – kaya – miskin – cukup miskin – sangat miskin, sangat besar – lebih besar – besar – kecil – lebih kecil – sangat kecil.
c.       Oposisi majemuk yaitu oposisi yang mencakup suatu perangkat yang terdiri dari dua kata. Satu kata berlawanan dengan dua kata atau lebih.

Contoh:
      Tidak duduk  >< Berdiri  ><  berbaring    ><  berjongkok><  tiarap
d.      Oposisi relasional yaitu oposisi antara dua kata yang mengandung relasi kebalikan, relasi pertentangan yang bersifat saling melengkapi.


Contoh:    menjual beroposisi membeli
                             suami beroposisi istri
                             utara beroposisi selatan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar